Bagaimana Cara Menentukan Metode Transfer Pricing?

Sumber: Freepik
Menentukan metode transfer pricing untuk perusahaan pembanding (yang independen) adalah bagian dari langkah-langkah untuk menentukan metode transfer pricing yang paling tepat untuk transaksi afiliasi Wajib Pajak yang sedang diuji, dengan cara menggunakan data dari perusahaan pembanding sebagai tolak ukur.
Prinsip dasarnya adalah Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha (PKKU) atau Arm's Length Principle, yaitu transaksi antara pihak afiliasi harus dilakukan seolah-olah transaksi tersebut dilakukan antara pihak-pihak independen yang memiliki kondisi yang sebanding. Di Indonesia, pemilihan metode transfer pricing diatur dalam PMK 172/2023 dan PER 22/PJ/2023.
Berikut adalah langkah-langkah dan faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan metode transfer pricing:
- Memahami Konsep Metode Transfer Pricing
Ada 5 (lima) metode utama yang diakui secara internasional (OECD) dan diatur di Indonesia:
- Metode Transaksi Tradisional (Transactional Traditional Methods):
- Comparable Uncontrolled Price Method (CUP): membandingkan harga barang/jasa dalam transaksi afiliasi dengan harga barang/jasa dalam transaksi independen yang sebanding. Ini adalah metode yang paling langsung dan prioritas pertama jika kesebandingan tinggi dapat dicapai.
- Resale Price Method (RPM): membandingkan margin laba kotor (gross profit margin) yang diperoleh penjual kembali (distributor) dalam transaksi afiliasi dengan margin laba kotor yang diperoleh penjual kembali independen yang sebanding. Cocok untuk distributor/reseller yang tidak memberikan nilai tambah signifikan.
- Cost Plus Method (CPM): membandingkan margin biaya-plus (cost plus margin) yang diperoleh produsen atau penyedia jasa dalam transaksi afiliasi dengan margin biaya-plus yang diperoleh produsen/penyedia jasa independen yang sebanding. Cocok untuk produsen/penyedia jasa yang menanggung biaya produksi/jasa.
- Metode Laba Transaksional (Transactional Profit Methods):
- Transactional Net Margin Method (TNMM): membandingkan rasio laba bersih operasi (net operating profit margin) Wajib Pajak dalam transaksi afiliasi dengan rasio laba bersih operasi perusahaan independen yang sebanding. Ini adalah metode yang paling sering digunakan karena fleksibilitasnya dalam mengakomodasi perbedaan kecil.
- Profit Split Method (PSM): membagi laba gabungan dari transaksi afiliasi di antara pihak-pihak yang berelasi berdasarkan kontribusi masing-masing pihak. Digunakan untuk transaksi yang sangat terintegrasi atau melibatkan aset tak berwujud yang unik dari kedua belah pihak.
- Tahapan Menentukan Metode Transfer Pricing yang Tepat
Proses ini dikenal sebagai "The Most Appropriate Method" dan melibatkan tahapan sebagai berikut:
- Analisis Fungsional (FAR Analysis)
Ini adalah langkah paling krusial dan mendasar. Lakukan analisis mendalam terhadap:
- Fungsi: aktivitas signifikan yang dilakukan oleh setiap pihak dalam transaksi afiliasi (misalnya, desain, manufaktur, perakitan, distribusi, pemasaran, penelitian dan pengembangan, pembelian, jasa purna jual, administrasi, keuangan).
- Aset: aset berwujud (pabrik, mesin, inventaris), aset takberwujud (paten, merek, teknologi, know-how), dan aset finansial (piutang, kas) yang digunakan oleh setiap pihak.
- Risiko: risiko ekonomi atau bisnis yang diasumsikan oleh setiap pihak (misalnya, risiko pasar, risiko kredit, risiko persediaan, risiko produk, risiko R&D, risiko garansi, risiko mata uang).
Analisis FAR akan membantu mengidentifikasi karakteristik transaksi dan profil pihak yang diuji. Misalnya, apakah entitas afiliasi adalah distributor sederhana yang menanggung risiko rendah, atau produsen kompleks yang memiliki R&D dan menanggung risiko tinggi.
- Mengidentifikasi Ketersediaan Data Pembanding
- Pembanding Internal: jika ada transaksi sebanding yang dilakukan oleh Wajib Pajak itu sendiri dengan pihak independen. Ini adalah preferensi pertama karena tingkat kesebandingannya seringkali tinggi.
- Pembanding Eksternal: jika pembanding internal tidak tersedia atau tidak memadai, cari data perusahaan independen di basis data komersial (misalnya Orbis, Amadeus, Bloomberg) yang melakukan transaksi sebanding.
- Memilih Pihak yang Diuji (Tested Party)
- Pihak yang diuji adalah pihak dalam transaksi afiliasi yang akan dianalisis labanya. Umumnya, dipilih pihak yang memiliki fungsi, aset, dan risiko yang lebih sederhana (least complex) dan data pembandingnya lebih mudah ditemukan.
- Misalnya, dalam transaksi penjualan dari produsen ke distributor afiliasi, jika distributornya adalah distributor sederhana yang hanya melakukan fungsi distribusi rutin, maka distributor tersebut kemungkinan besar akan dipilih sebagai tested party.
- Menilai Kelebihan dan Kekurangan Setiap Metode
Berdasarkan analisis FAR dan ketersediaan data pembanding, evaluasi kelebihan dan kekurangan masing-masing metode:
- CUP:
Kelebihan: paling langsung.
Kekurangan: sangat sulit menemukan pembanding yang identik (kesebandingan sangat tinggi).
- RPM:
Kelebihan: cocok untuk distributor.
Kekurangan: perlu margin laba kotor yang sebanding.
- CPM:
Kelebihan: cocok untuk produsen atau penyedia jasa.
Kekurangan: perlu biaya dan margin laba kotor yang sebanding.
- TNMM:
Kelebihan: paling fleksibel, dapat mengakomodasi perbedaan kecil.
Kekurangan: kurang presisi dibanding CUP, perlu data laba bersih operasi yang andal.
- PSM:
Kelebihan: cocok untuk transaksi terintegrasi kompleks.
Kekurangan: sangat sulit diterapkan, memerlukan data internal yang detail dari kedua belah pihak.
- Menentukan Metode Paling Tepat (The Most Appropriate Method)
- Pilih metode yang paling tepat mencerminkan substansi ekonomi transaksi afiliasi dan sesuai dengan karakteristik fungsional, aset, dan risiko dari pihak yang diuji.
- Hierarki (tidak mutlak, tapi preferensi):
- CUP adalah prioritas utama jika dapat diterapkan dengan andal (kesebandingan tinggi).
- Jika CUP tidak dapat diterapkan, pertimbangkan RPM atau CPM, tergantung profil pihak yang diuji (distributor atau produsen/penyedia jasa).
- TNMM sering menjadi pilihan jika metode tradisional sulit diterapkan atau jika ada perbedaan yang signifikan antara transaksi/perusahaan pembanding yang dapat diatasi dengan TNMM.
- PSM hanya digunakan untuk kasus yang sangat kompleks dan terintegrasi di mana metode lain tidak dapat diterapkan.
- Analisis Kesebandingan (Comparability Analysis)
Setelah memilih metode, tahap berikutnya adalah menemukan dan menganalisis perusahaan pembanding secara detail.
- Faktor Kesebandingan (5 Faktor):
- Karakteristik Barang/Jasa: tingkat kesamaan fisik, kualitas, jumlah, keandalan, dan ketersediaan barang/jasa.
- Analisis Fungsi, Aset, dan Risiko (FAR Analysis): kesamaan dalam fungsi yang dilakukan, aset yang digunakan, dan risiko yang ditanggung antara pihak afiliasi dan pembanding. Ini adalah faktor paling penting.
- Ketentuan Kontrak: hak dan kewajiban para pihak yang tertuang dalam perjanjian.
- Kondisi Ekonomi: lokasi geografis pasar, ukuran pasar, tingkat persaingan, daya beli konsumen, biaya produksi, tanggal transaksi.
- Strategi Bisnis: inovasi, diversifikasi produk, strategi pemasaran, kebijakan penetapan harga, strategi pertumbuhan.
- Penyesuaian (Adjustments): jika ada perbedaan material dalam faktor kesebandingan yang dapat memengaruhi harga atau laba, lakukan penyesuaian yang wajar dan akurat (misalnya penyesuaian modal kerja, perbedaan akuntansi, asset intensity adjustment, dsb).
- Validasi Data: pastikan data pembanding akurat, tersedia secara publik, dan mencakup periode waktu yang relevan (misalnya 3 tahun data keuangan bahkan lebih apabila terjadi anomali pada perusahaan yang diuji maupun pada perusahaan pembanding).
- Penentuan Rentang Kewajaran (Arm's Length Range): hasil analisis akan membentuk rentang kewajaran (misalnya dari kuartil 1 hingga kuartil 3). Jika transaksi afiliasi berada di luar rentang ini, penyesuaian transfer pricing mungkin diperlukan.