Topik: PERPAJAKAN DAN PENERIMAAN

1.) Asian Games Tak Banyak Dorong VAT Refund

Minat wisatawan asing menggunakan fasilitas pengembalian pajak pertambahan nilai atau VAT (Value Added Tax) refund masih minim. Bahkan di saat pelaksanaan Asian Games 2018, kebijakan yang diberikan untuk menaikkan minat turis berbelanja di dalam negeri, belum dimanfaatkan maksimal.

Berdasarkan data Dirjen Pajak, jumlah pemohon VAT refund sampai Senin kemarin di Bandara Soekarno Hatta hanya mengalami kenaikan sebesar 231 pemohon. Jumlah pemohon pada tanggal 10 Agustus 2018 adalah sebanyak 874 pemohon, sementara per tanggal 3 September 2018 sebanyak 1105 pemohon. Sementara itu, di Bandara Ngurah Rai Bali, jumlah kenaikan pemohon hanya 301 pemohon saja, dari 2332 pemohon menjadi 2633 pemohon, begitu pula dengan jumlah pemohon di bandara Adisutjipto hanya bertambah 2 pemohon menjadi 5 pemohon.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), Yustinus Prastowo menilai, sepinya peminat karena beberapa hal. Pertama, karena konsumen tidak banyak. Kedua, karena konsumen menganggap harga barang murah sehingga tidak memerlukan VAT Refund. (Kontan)

Topik: EKONOMI DAN BISNIS

1.) Produk Baja Indonesia Bebas Tarif Masuk AS

AS memberikan pengecualian terhadap 19 produk baja jenis carbon and alloy dan stainless steel asal Indonesia dari tarif impor baja global yang ditetapkan sebesar 25%. Pengecualian itu menyebabkan produk baja terpilih asal Indonesia bisa masuk ke pasar ‘Negeri paman Sam’ dengan bebas tarif impor.

Menteri Perdagangan Enggartiasto tidak hanya berhasil meyakinkan pemerintah AS, tetapi juga para pelaku usaha di sana bahwa produk itu tidak diproduksi di sana, dan permintaan atas produk itu semakin meningkat. Ini tidak hanya menguntungkan industri AS, melainkan juga Indonesia. (Media Indonesia)

2.) Fitch Ratings Pertahankan Investment Grade di Indonesia

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings mengafirmasi peringkat surat utang Indonesia di level investment grade (layak investasi). Hal ini didukung oleh faktor beban utang pemerintah RI yang relative rendah. Selain itu, prospek pertumbuhan ekonomi dinilai baik ditengah tantangan eksternal yang antara lain berasal dari tingginya ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal.

Fitch juga menilai positif langkah positif langkah BI untuk menaikkan suku bunga guna menahan depresiasi rupiah dan membendung arus modal keluar. (Investor Daily)

3.) Harga Pangan Terkendali, Inflasi 2018 Capai Target

Pemerintah optimis bahwa target inflasi sebesar 3,5% pada tahun ini akan tercapai dengan mengendalikan level inflasi harga pangan bergejolak dan meningkatkan koordinasi dengan semua pihak, termasuk pemerintah daerah.

Menurut BPS, terjadi deflasi sebesar 0,05% pada Agustus 2018. Angka deflasi ini membuat inflasi secara tahun kalender dari Januari-Agustus 2018 sebesar 2,13% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (yoy) sebesar 3,2%. (Investor Daily)

4.) Konversi Devisa Jadi Kunci

Kebijakan memulangkan devisa hasil ekspor bakal efektif untuk menjaga keseimbangan transaksi berjalan jika diikuti oleh kewajiban mengonversinya ke dalam rupiah. 90% eksportir sudah membawa pulang Devisa Hasil Ekspor (DHE), tetapi jika masih berbentuk valuta asing tidak akan bermanfaat terhadap nilai tukar rupiah.

Mengejar 10% sisa eksportir yang belum mengembalikan DHE-nya pun juga tidak akan berdampak signifikan. Dari total DHE USD 115,6 Miliar yang dihasilkan, ada sekitar USD 108,7 Miliar yang ditaruh di perbankan dalam negeri dan hanya sekitar 15% yang dikonversi ke dalam mata uang Rupiah.

Pengembalian DHE ke dalam negeri menjadi mubazir ketika PBI 16/2014 tidak mewajibkan pengusaha untuk mengubahnya ke Rupiah. Berbeda dengan Thailand yang mengatur pemulangan regulasi sebesar 50% dari DHE yang disimpan di dalam negeri, namun DHE tersebut harus sudah dikonversi ke dalam mata uang lokal dan diparkir paling sedikit selama 6 bulan. (Bisnis Indonesia)

Share this page .Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someonePrint this page