Tax Consulting


flash newsTopik: PERPAJAKAN DAN PENERIMAAN

1. Realisasi Penerimaan dan Belanja Negara

Risiko penerimaan pajak diprediksi tak mencapai target sehingga membuat pengelolaan anggaran kian sukar. Padahal pemerintah akan menggenjot belanja negara dalam APBN-P 2017 senilai Rp2.133 triliun. Diharapkan dengan pajak dari belanja pemerintah dapat menutup target penerimaan pajak tahun ini senilai Rp1.283 triliun. Hal ini didukung oleh data historis rata-rata kontribusi penerimaan pajak adalah 9% dari total belanja negara.

Jika realisasi dibawah target, skenario akan berubah. Realisasi penerimaan Negara yang kurang dari target adalah bagian dari risiko pengelolaan APBN. Untuk mengatasinya, Kementerian Keuangan memiliki mekanisme pemantauan realisasi APBN, salah satunya yaitu dengan manajemen liabilitas aset.

Adapun Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan Pajak Yon Arsal mengaku optimis atas penerimaan pajak, yang meskipun sampai September masih tipis, namun cenderung melonjak pada November dan Desember mendatang. (Bisnis Indonesia & Kompas)

Topik: EKONOMI DAN BISNIS

1. Diversifikasi Tunjukkan Hasil: Negara Tujuan Ekspor Terus Bertambah

Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto mengatakan kini ekspor Indonesia tidak hanya bertumpu pada Negara-negara tradisional, tapi juga sudah mulai merambah ke sejumlah Negara di Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Upaya peningkatan ekspor tidak hanya menambah nilai produk, tapi juga dengan terus memperluas pasar ekspor ke Negara-negara nontradisional.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang UMKM M Lutfi mengatakan peningkatan ekspor melalui pelaku-pelaku usaha baru, terutama UMKM. Untuk itu, standarisasi dan sertifikasi produk UMKM perlu benar-benar digarap. (Kompas)

2. BI Terbitkan Aturan Mata Uang Lokal untuk Ekspor-Impor

Bank Indonesia menerbitkan peraturan mengenai penyelesaian transanksi perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal (local currency settlement/LCS) seperti rupiah. Direktur Komunikasi BI, Arbonas Hutabarat, mengatakan aturan ini bertujuan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. “Dengan cara mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serika dalam penyelesaian transaksi perdagangan bilateral,” katanya. (Koran Tempo)

3. Kemkominfo Siapkan Roadmap IoT

Kominfo sedang menyiapkan peta jalan (roadmap) industri perangkat/benda yang serba terhubung dengan internet (internet of things/IoT). Peta jalan yang juga akan dijadikan regulasi industri IoT ditargetkan selesai disusun pada 2018. Menkominfo telah meminta kepada tim perumus agar materi roadmap yang juga akan menjadi regulasi diharapkan tidak terlalu ketat dan kaku.

Pasalnya, industri IoT merupakan sesuatu yang dinamis, jika terlalu ketat, dikhawatirkan akan mengekang inovasi pada industri IoT. Ia menyampaikan bahwa The Best Regulation is the Less Regulation, jangan meregulasi terlalu ketat terhadap hal-hal yang dinamikanya sangat cepat, kecuali hal-hal statis.

Karena kita butuh ruang untuk siapapun berinovasi di dunia IoT. Berdasarkan hasil studi lembaga riset, Gartner dan IDC perkembangan industri IoT berkembang sangat pesat, pada 2014 – 2020 diproyeksikan nilai pasar IoT untuk dunia mencapai USD 300 Miliar, sedangkan IDC memproyeksikan USD 1,7 Triliun. (Investor Daily)

4. Laju Inflasi Segera Meningkat

Para pimpinan bank-bank sentral dunia memperkirakan laju inflasi segera meningkat kendati pelemahannya yang terus berlanjut di negara-negara maju masih menjadi misteri. Wakil presiden Bank Sentral Eropa memperkirakan ada kenaikan tingkat inflasi, meski upah tetap lemah selama pemulihan ekonomi yang berlangsung saat ini.

Constancio tidak sendirian, bersama dengan para pemimpin bank sentral lainnnya yang bertemu di Washington dan semuanya juga memperkirakan kenaikan tingkat inflasi pada titik tertentu, meskipun ada kelemahan yang membingungkannya di sseluruh negara-negara maju. (Investor Daily)

5. Utang Luar Negeri Swasta Kembali Naik

BI mencatat posisi utang luar negeri di akhir Agustus 2017 sebesar US$ 340,5 miliar, naik tipis dibandingkan akhir bulan sebelumnya. Nilai tersebut disumbang oleh Pemerintah dan bank sentral US$ 174,9 miliar, serta swasta sebesar US$ 165,49 miliar. Namun demikian, perkembangan utang luar negeri bulan Agustus 2017 masih sehat dan terkendali, sebab ini juga sejalan dengan pertumbuhan investasi swasta. (Kontan)

6. Ekspor Industri Pengolahan Melemah

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan tren ekspor industri pengolahan Tanah Air sepanjang tahun ini. Meski ekspor tahunan tumbuh 4,51%, pertumbuhan sektor industri pengolahan terus turun. Seperti yang terjadi pada September tahun lalu, saat ekspor industri pengolahan melambat 8,44% dibanding bulan sebelumnya. “Selain pakaian dan tekstil, industri perhiasan, minyak hewan, dan minyak nabati mengalami penurunan,” kata Kepala BPS Suhariyanto. (Koran Tempo)

7. Impor Lesu, Kegiatan Ekonomi Kurang Tenaga

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2017 kemungkinan tidak jauh berbeda dengan kuartal yang sebelumnya yang hanya 5,01%. Pasalnya, industri manufaktur tengah loyo, tercermin dari penurunan impor di September 2017 dibandingkan tahun sebelumnya.

Padahal, manufaktur adalah penyumbang terbesar terhadap PDB. Kepala BPS menyebut penurunan tersebut terjadi di seluruh golongan penggunaan barangnya. Namun menurut Darmin, lemahnya kinerja ekspor impor tidak perlu dikhawatirkan, sebab masih ada peningkatan secara tahunan. (Kontan)

Contact Us

Publication

Enforce A Flash News 16 November 2017
Enforce A Flash News 10 November 2017
Enforce A Flash News 8 November 2017

Read More

Partner in Charge

I Wayan Sudiarta
+62 877 7531 2419
wayan.sudiarta@enforcea.com
Related Post