Tax Consulting


flash newsTopik: PERPAJAKAN DAN PENERIMAAN

1. Target Perpajakan Dipasang Tinggi

Target penerimaan perpajakan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2018 ditetapkan relative tinggi. Tak tangung-tanggung target penerimaan pada 2018 diproyeksikan naik lebih dari Rp. 100 triliun. Tarif PPh sementara itu, terkait dengan tariff Pajak penghasilan, pemerintah didorong untuk mereformasi tariff pph tersebut. Pasalnya, tariff yang berlaku masih timpang. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan realisasi penerimaan PPh wajib pajak orang pribadi karyawan dan non karyawan. Yustinus Prastowo, Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengatakan ketimpangan itu ditunjukan dari grafik persentase kenaikan beban pajak marjinal yang menunjukan semakin tinggi tingkat pendapatan tenyata menanggung beban pajak yang semakin kecil, kelompok menengah justru menanggung marjin kenaikan tertinggi, ini menunjukan progresivitas kita rendah. (Bisnis Indonesia)

2. Juli, Utang Pemerintah Bertambah Rp73,47 Triliun

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu mencatat, posisi utang pemerintah pusat sampai akhir Juli 2017 mencapai Rp3.779,98 triliun yang telah digunakan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi. Dari nilai total tersebut, penambahan utang neto selama Juli 2017 tercatat Rp73,47 triliun. Tambahan pembiayaan utang ini dilakukan untuk mendukung kenaikan belanja produktif di bidang pendidikan, insfrastruktur, kesehatan, transfer ke daerah dan dana desa serta belanja sosial. Pemerintah menegaskan akan terus menerus berupaya mengelola risiko utang dengan sebaik-baiknya dan berhati-hati, termasuk mengelola risiko tingkat bunga, risiko nilai tukar dan risiko pembiayaan kembali. (Investor Daily)

3. Saldo Pemda Dianggap Wajar, Simpanan Pemerintah Provinsi Membengkak

Agregat dana simpanan semua pemerintah daerah di perbankan per 30 Juni 2017 mencapai Rp 222,6 triliun atau membengkak Rp 7,9 triliun dari periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, Kemeterian Keuangan masih menganggapnya wajar.
Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Boediarso menjelaskan, simpanan pemda di bank merupakan pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang belum dapat digunakan untuk mendanai rencana belanja daerah. Hal ini antara lain disebabkan sebagian kegiatan fisik atau proyek belum dilaksanakan atau kegiatannya sudah dilaksanakan tetapi belum selesai, sehingga pembayarannya belum dapat dilunasi. Dengan demikian, tidak berarti semua simpanan pemda di perbankan tersebut merupakan dana menganggur. (Kompas)

4. Inklusi Keuangan Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan Satuan Kerja Nasional Keuangan Inklusif bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi, percepatan penanggulangan kemiskinan, serta pengurangan kesenjangan antarindividu dan antardaerah. Program kerja tersebut terdiri atas tujuh pilar, yaitu kelompok kerja yang membidangi edukasi keuangan, hak properti masyarakat, fasilitas intermediasi dan saluran distribusi keuangan, pelayanan sektor keuangan pemerintah, perlindungan konsumen, regulasi dan infrasturktur teknologi informasi keuangan. Implementasi Strategi Nasional mecapai target keuangan inklusif jumlah penduduk dewasa yang memilikiakses layanan keuangan di lembaga keuangan formal sebesar 75% pada akhir 2019. (Tempo)

Topik: EKONOMI DAN BISNIS

1. Impor Barang Modal Melonjak

Impor barang modal dan bahan baku/penolong Januari –Juli 2017 melonjak, masing-masing sebesar 9,27% menjadi US$ 13,26 miliar dan 16,31% menjadi US$ 65,06 miliar. Bahkan, pada Juli, kenaikannya mencapai masing-masing 62,57% dan 40,79%, yang mengindikasikan peningkatan investasi pascaperayaan Lebaran Juni lalu. Hal itu sejalan dengan indeks tendensi bisnis pada kuartal III-2017 yang meningkat, yang menandakan sektor swasta tengah berekspansi. (Investor Daily)

2. Rupiah Terdepresiasi 0,28% terhadap dolar AS

BPS mencatat, nilai tukar rupiah selama Juli 2017 terdepresiasi sebesar 0,28% terhadap dolar AS dengan nilai tukar sebesar Rp13.315,90 per dolar AS. Rupiah juga terdepresiasi terhadap dolar Australia. Tercatat depresiasi mencapai 4,03% terhadap dolar Australia pada Juli 2017 dengan nilai tukar sebesar Rp10.520,13 per dolar Australia. Selain terhadap dolar AS dan Australia, terhadap Euro rupiah juga terdepresiasi. Nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 3,15% pada Juli 2017 dengan nilai tukar sebesar Rp15.468,85 per euro. (Investor Daily)

3. Investasi Atasi Kesenjangan Ekonomi

Kesenjangan ekonomi dan pembangunan antarwilayah hingga kini masih menjadi persoalan mendasar yang belum dapat diselesaikan sejak Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Kesenjangan ekonomi dapat diatasi dengan cara meningkatkan investasi sehingga tercipta banyak lapangan kerja, peningkatan produktivitas tenaga kerja lewat berbagai program pelatihan, dan konsistensi kebijakan pemerintah untuk mendongkrak daya beli masyarakat bawah. (Investor Daily)

4. Investor Lokal Meningkat, Dukung Perekonomian

Jumlah investor saham lokal terus meningkat dalam tiga tahun terakhir, hal ini merupakan sinyal baik untuk mendukung stabilitas pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah investor lokal pada 2016 mencapai 535.994 orang. Jumlah itu meningkat dibandingkan dengan dengan setahun sebelumnya yang sebanyak 434.140 orang dan 2014 sebanyak 365.303 orang. (Kompas)

5. Neraca Perdagangan Juli 2017 Defisit

Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2017 mengalami defisit US$ 0,27 miliar, total ekspor Indonesia selama bulan lalu sebesar US$ 13,62 miliar dan total impor US$ 13,89 miliar. Defisit terjadi karena migas mengalami defisit jauh sebesar US$ 604 juta, sedangkan surplus ekonomi nonmigas sedikit. Berdasarkan asal negara impor, ketergantungan kita kepada Cina sangat besar 25,84% dan akan berpengaruh pada neraca perdagangan. Sedangkan dari sisi ekspor, nonmigas masih mendominasi hingga 91,37% yang terdiri atas sektor industri pengolahan, tambang dan pertanian. (Tempo)

6. Perusahaan Besar Pasang Target Konservatif

Perusahaan besar tampak hati-hati dan konservatif memasang target bisnis di tengah pelambatan laju ekonomi tahun ini. Target pertumbuhaa ekonomi nasional yang sebesar 5,2% jadi tantangan berat menggeber bisnis. Hal ini berdampak pada kinerja emiten. Rata-rata pendapatan emiten di Bursa Efek Indonesia kuartal II naik 6,72% (yoy). Ini lebih rendah dibanding dengan kuartal I-2017 yang tumbuh 10,99% (yoy). (Kontan)

7. Isyarat Bagus dari Kenaikan Impor dan Defisit Dagang

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Juli 2017 defisit US$ 271,1 juta. Ini adalah defisit perdagangan pertama sejak awal tahun 2015. Namun, nilai import Juli 2017 naik 39% menjadi US$ 13,89 miliar dibanding bulan sebelumnya. Jika dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy) impor naik 54,01%. Import bahan baku naik 40,79% dibandingkan Juni atau naik 52,94% yoy. “Kenaikan impor tertinggi terjadi pada emas, pottasium chloride, dan raw cotton,” kata Suhariyanto, Kepala BPS. (Kontan)

Contact Us

Publication

Enforce A Flash News 16 November 2017
Enforce A Flash News 10 November 2017
Enforce A Flash News 8 November 2017

Read More

Partner in Charge

I Wayan Sudiarta
+62 877 7531 2419
wayan.sudiarta@enforcea.com
Related Post